MEWUJUDKAN KAWASAN BACKPACKER DI BANDUNG

11 Jan 2012

Tulisan ini telah dimuat di harian Pikiran Rakyat Bandung, 10 Januari 2012 hal. 22.

Perkembangan yang cukup menggembirakan bahwa Kota Bandung telah dikunjungi sekitar 4 juta wisatawan dalam negeri dan wisatawan mancanegara (wisman) sepanjang tahun 2011 (PR, 03/01/2012) serta wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk secara langsung ke Jawa Barat (Jabar) melalui Bandara Husein Sastranegara dan Pelabuhan Muarajati Cirebon diprediksi mencapai lebih dari 106.350 orang. Jumlah tersebut naik 15 persen dibandingkan realisasi 2010 (PR,04/01/2012).
hostel
Sebagai orang Jawa Barat tentu merasa bangga bahwa Jawa Barat khususnya kota Bandung telah menjadi tujuan wisata dengan beragam destinasi heritage, hiburan, atraksi maupun kuliner yang memiliki ciri khas menarik. Jangan ditanya lagi kalau wisatawan yang datang ke Bandung pasti akan ke Pasar Baru, Cihampelas atau factory outlet yang berjejer di jalan Riau untuk berbelanja fashion serta menyantap makanan/kuliner khas Bandung yang bertebaran disudut sudut Kota.
Wisatawan yang berkunjung ke Bandung datang dari berbagai kalangan, mulai kelas bintang lima sampai dengan kelas losmen, barang tentu mereka memiliki kebutuhan yang berbeda ketika berada di Bandung.
Salah satu kelompok wisatawan yang sedang menjadi trend di seluruh dunia adalah wisatawan yang disebut dengan istilah backpacker. Backpacker merupakan perwujudan dari wisatawan yang sebagian besar dari kalangan muda namun tidak menutup kemungkinan dari kalangan yang sudah berumur yang ingin bebas atau mandiri menentukan tujuan wisata tanpa bergantung sepenuhnya kepada agen agen wisata yang ada. Seperti yang saya sampaikan di majalah digital infobackpacker.com (edisi 7) bahwa backpacker adalah Wisatawan mandiri hemat biaya, yaitu wisatawan yang mandiri mencari informasi dan menentukan tujuan perjalanan (destinasi) via berbagai media seperti internet, majalah, buku dll. Mandiri mengatur acara dan jadwal perjalanan, mandiri membeli tiket sendiri via internet. Bebas untuk mengubah acara yang telah disusun selama perjalanan. Selalu ingin mendapatkan tiket yang termurah, selalu ingin mendapatkan tempat menginap yang murah bahkan kalau perlu gratis (couchsurfing). Transportasi publik jadi kendaraan utama. Selalu ingin bepergian kembali ke tempat yang belum pernah dikunjungi.
Saat ini berwisata dengan ala backpacker bukan hanya bagi orang pas-pasan saja, ternyata orang yang biasa menginap di hotel berbintangpun mulai menikmati gaya ini dengan alasan kebebasan dan kemandirian bahkan salah satu artis terkenal ibukota pernah melakukan backpacking ke India dan Tibet. Meskipun serba ingin hemat, secara perorangan jumlah uang yang dibelanjakan relatif sedikit dibandingkan dengan wisatawan kelompok lain, namun keberadaan backpacker di berbagai negara tidak dipandang sebelah mata. Mengapa demikian ? karena backpacker dunia yang jumlahnya jutaan orang memiliki komunitas yang selalu berbagi informasi dan pengalaman selama perjalanannya melalui dunia maya seperti maling list, blog maupun jejaring sosial Facebook atau Twitter bahkan menulis buku tentang catatan perjalanannya beserta kiat-kiatnya perjalanan hematnya, aktifitas ini secara tidak langsung menjadi media promosi bagi kota-kota yang pernah dikunjunginya.
Kota-kota besar seperti Jakarta telah memiliki lokasi atau area yang khusus bagi backpacker yaitu di jalan Jaksa demikian pula di Yogya dengan sebutan kampung backpacker Sosrowijayan dan Prawirotaman serta Poppies Lane Kuta Bali. Bahkan di Bangkok Thailand dikenal oleh backpacker dunia yaitu Khaosan Road (http://www.khaosanroad.com/). Setiap backpacker yang baru mendarat di airport pasti langsung naik bus menuju area tersebut. Di area tersebut berbagai macam fasilitas bagi wisatawan semuanya tersedia, tentu dengan harga yang sangat hemat. Demikian pula di Ho Chi Min (Saigon) Vietnam, semua backpacker pasti akan berkumpul di kawasan backpacker Pang Ngu Lao street sebelum melanjutkan perjalanan wisatanya ke berbagai negara di kawasan Indochina, sedangkan di ibukota India New Delhi, dikenal dengan kawasan Paharganj merupakan tempat para backpacker dunia berkumpul karena strategis, terletak tidak jauh dari kawasan Old Delhi (Kota Tua) serta dekat dengan stasiun kereta api dan metro.

Di Bandung.
Apakah Bandung memiliki backpacker area ? Bandung sekarang didarati oleh penerbangan langsung dari Kuala Lumpur, Singapura, Bali, Yogyakarta, Surabaya merupakan kota-kota destinasi wisata yang banyak dikenal oleh wisatawan mancanegara, dengan demikian memang sewajarnya Bandung harus memiliki backpacker area. Namun sampai dengan saat ini belum terdengar ada kawasan backpacker di Bandung yang dikenal luas, kawasan backpacker yang muncul atau di ulas oleh para backpacker dunia melalui komunitasnya. Bahkan beberapa rekan backpacker selalu bertanya dimana kawasan backpacker di Bandung seperti di kota lainnya. Kawasan backpacker merupakan kawasan yang terpadu yaitu adanya penginapan murah, didampingi tempat makan murah, agen perjalanan yang menawarkan paket murah, penjual souvenir murah, dengan demikian para backpacker tidak perlu lagi mencari cari di berbagai tempat yang berjauhan tetapi semuanya tersedia dalam hitungan langkah kaki saja.

Dimana letak kawasan backpacker Bandung ?
Kawasan backpacker biasanya terletak di tempat yang mendekati pusat kota bahkan di pusat kota yang dekat dengan layanan transportasi publik seperti stasiun kereta api, bus dan angkot. Para backpacker akan betah tinggal di kawasan ini, bisa menikmati dengan nyaman apabila kawasan ini di tata dengan tertib, rapih dan faktor keamanan yang diutamakan karena wisatawan akan datang kalau memang keamanannya terjamin.
Layakah kawasan Alun Alun / Sasak Gantung, kebon Kalapa menjadi kawasan backpacker ? atau diseputar Kebon Kawung/ stasiun Kereta Api ? Secara geografis memang layak karena memenuhi syarat di atas namun lebih jauhnya memerlukan kajian khusus dengan dampak ekonomi dan sosialnya karena akan ada percampuran budaya atau kebiasaan yang berbeda yang belum tentu diterima masyarakat sekitar.
Lalu beranikah pemerintah kota Bandung menata dan menjadikan ikon pariwisata kawasan backpacker ini seperti yang dilakukan oleh Jakarta, Bali, Yogyakarta, Bangkok, Saigon, New Delhi dengan segala konsekuensinya ? Sepertinya harus dikembalikan kepada kebijakan pemerintah kota Bandung dan anggota DPRD yang didukung oleh masyarakat pariwisata seperti ASITA, PHRI, akademisi, komunitas dan organisasi lainnya yang memang merasa cinta pada pariwisata Bandung, agar wisata Bandung dikenal lebih luas di mancangara dengan segala keunikannya.

Penulis :
Anton Tirta K, dosen STIE Pasundan Bandung,
pengamat pemasaran pariwisata dan penggemar backpacking


TAGS


-

Author

Follow Me